Rumpang
Masalah yang kian menyambangi, terkadang menjadi kabut
yang membuat hatinya kalut. Ia kehilangan makna dalam jalan yang sedari awal ia
pilih.
-“Tidak bisakah aku berhenti saja?”-
***
Sebagai manusia yang memiliki tanggung jawab besar,
kadangkala hati kita penuh dengan perasaan bermakna. Siapa yang tidak bermakna
bisa dititipkan tanggung jawab luar biasa, dibanding makhluk lain di muka bumi?
Artinya, diri diberi sebuah percaya yang besar oleh yang
menitipkan tanggung jawab.
Seorang teman bertutur “Namun, panjang serta lama nya
jalan yang sedang diusahakan itu, ditambah banyak badai yang menyambangi, tak
jarang membuat sang diri juga lelah tertatih-tatih. Mengupayakan agar terus
bisa bertahan pada apa yang sudah dipilih.” Bukan, bukan dipilih, tapi yang
memang sudah benar-benar diamanahi dari awal, ku bilang.
Perihal rasa, kadarnya memang bisa saja naik dan turun.
Disatu waktu, hatimu penuh dengan rasa syukur, dilain waktu kamu kehilangan itu
dan berkeinginan untuk menyudahi. Ingin lari sekencang mungkin. Padahal
nyatanya, kamu akan tetap diperjumpakan dengan hidup dan merasa.
Mungkin dengan sebuah baru yang menyenangkan, kamu
berpikiran akan betah. Tanpa menilai apakah sebuah baru itu layak dijalani atau
diperjuangkan. Tapi nyatanya, suatu saat perasaan mu juga akan naik turun lagi.
Sehingga bagaimana?
Selayaknya memang kita bertahan, apalagi ini sebuah kebenaran.
Banyaknya persoalan yang membuat lelah memang menjadi konsekuensi, tapi semua
bisa diselesaikan dengan cinta. Selelah apapun jika tetap mencintai
tanggung-jawab, lautmu akan terasa lebih menyenangkan untuk di arungi.
Namanya cinta, itu soal rasa yang bisa naik dan turun.
Menjadi tugas tambahan untuk ku dan kamu-kamu semua merawat cinta
sampai tanggung-jawab bisa dihadiri kata rampung. Sesekali menghindar dari
hiruk-pikuk yang membuatmu lelah untuk kembali menemukan makna, bukanlah
persoalan yang salah. Malah, itu sebuah keharusan.
Mengambil waktu, berbenah diri…
Hidup ini adalah tanggung jawab, bukan pelarian.
Berlari sekencang apapun, menghindar sejauh apapun, yang
namanya hidup tetaplah hidup. Dan ia akan selalu penuh dengan tanggung jawab
(bagi yang menyadari, dan kuharap kita semua menjadi orang yang sadar akan
esensi hidup itu).
Dalam berjuang menggaungkan kebenaran, rasanya jalan itu
panjang sekali, bukan? Namun, aku pernah membaca serangkaian wacana yang cukup
menyentil hatiku.
“Tanggung jawab berjuang dalam jalan kebenaran itu
sebenarnya singkat. Kamu hanya perlu berjuang sampai mati. Jika kamu mati
besok, maka tanggung jawabmu selesai sampai besok saja. Sudah, sesingkat itu”
Kita tak pernah tau kapan atma ini akan diambil kembali oleh
Si Pencipta sekaligus Si Pemberi tanggung jawab. Kehidupan ini penuh
ketidakpastian. Kamu bisa saja mati saat tertidur, kamu bisa saja mati saat
sedang memakan makanan favoritmu, kamu juga bisa mati saat tidak sedang
melakukan apa-apa. Hidup begitu singkat, tidak ada yang bisa menjamin kamu akan
tetap hidup satu menit kedepan. Selagi diberi masa, maka berjuanglah sekuat
tenaga dalam jalan yang benar. Tak ada waktu untuk berlari meninggalkan apa yang
sudah amanahi.
Aku mempercayai kehidupan setelah kematian. Hidup adalah
tanggung jawab yang akan dipertanggungjawabkan di kehidupan setelah kematian
itu. Aku melangitkan doa, semoga apa yang kita usahakan dan perjuangkan bisa
cukup dipersembahkan sampai mendapat balasan yang pantas dan paling
membahagiakan juga. Aamiin.
Kita mungkin butuh pendengar, dan Tuhan selalu bersedia.
Orang yang lelah, memendam apapun beratnya sendiri. Dan yang
ingin ku bilang, kamu tidak pernah pernah benar-benar ditinggal sendiri—Al-Mujadalah:
7.
Selalu ada Tuhanmu yang bersedia meluangkan apapun untuk
hambanya. Masih ada Dia yang senantiasa terbuka tangannya untuk menerima semua
hati beratmu itu. Yang perlu kamu ingat, Tuhan menyayangimu dengan penuh.
Mungkin, kamu terlalu diliputi kabut tebal yang enggan untuk
kamu hilangkan. Padahal, Tuhan dengan baiknya selalu punya sesuatu yang bisa
merajut kembali bahagiamu.
Jantungmu, salah satunya.
Ia memberikan sebuah harta yang mampu membuat aku dan kamu
tetap hidup. Degupnya yang tak kenal henti, merupakan bentuk cinta luar biasa. Itu
tanda bahwa Tuhan masih memberikan kepercayaan penuh terhadap kita. Untuk terus
bergulat dengan hari, menempah diri, dan terus mempelajari apapun yang sedang
dihadapi sebagai bekal untuk menyanggupi apa yang telah diamanahi. Meski selelah
apapun, jika Tuhan masih mengizinkan jantung kita terus berdetak, maka selama
itu pula Ia masih penuh menaruh pecaya terhadap hamba-hambanya.
Tidakkah kita ingat, betapa mahal harga sebuah kepercayaan? Sesungguhnya,
kita yang masih diberi percaya adalah orang yang penuh dengan untung. Aku
berharap semoga kepercayaan ini bisa kita pergunakan dengan baik, sebaik Tuhan
yang selalu mau mengusahakan bahagia kita lewat berbagai Nikmatnya.
Terimakasih, sudah membaca!
Semoga kamu berhasil menemukan kembali maknamu yang sempat rumpang dan berjaya
merawatnya sampai tanggung-jawabmu sepenuhnya rampung.
Peluk hangat,
menggarisbawahi`♡


Syukron very much atas tulisannya nad....tetap berproses.✨
BalasHapusDinamika tentunya akan selalu ada, tapi percayalah kalau kamu pasti bisa melewatinya asalkan kamu mau jalani setiap sunatullah"nya dan tidak lari darinya .
Setiap dari kita saat ini mungkin punya tanggung jawab yang harus senantiasa kita emban. Jadi jangan merasa bahwa kita ini sendirian. Tulisan ini bisa jadi salah satu alarm bagi kita untuk senantiasa merawat dan mengemban tanggung jawab yang ada dengan sebaik-baiknya dan totalitas.
Terus berproses hingga tanggung jawab yg kita emban rampung. Dan Allah berkata waktunya pulang.
#semangatparapejuang
#semangatberproses
makasiii banyakk kak kiii<3 semangat berproses!
HapusAllooh telah menakdirkannya, sampailah aksara ini kpd saya... alhamdulillaah jadi renungan yang bermanfaat. Baarokalloohu fiik kak, jazaakillaahu khoyron (Semoga Allooh balas kebaikan kakak)^^
BalasHapusAamiin ya rabbal 'alamiin😊🤲
HapusTerimakasih ya kak, Alhamdulillah jika tulisannya bisa bermanfaat...