Kok Sulit, Ya? (Sebuah Kisah Tentang Perasaan Runyam yang Berhasil Menemukan Jalan Keluar)
Sedikit Cerita
Sore itu, aku memilih untuk berkeliling di komplek tempatku
tinggal dan berhenti sejenak dari sebongkah tugas yang kupikir tak ada
habisnya. Angin sore, samar-samar berhembus menerpa wajahku yang ditutupi
masker.
Kelanaku belum ingin habis, tapi suasana syahdu taman di
tengah komplek lebih besar menarik atensiku. Sendal hitam yang warnanya sudah
tak pekat lagi, perlahan kembali menemaniku melangkah menapaki tanah taman itu.
Hingga sampailah aku, di depan dua buah ayunan yang letaknya di bagian tepi
taman. Aku duduk di salah satu ayunan lalu melepas masker, dilanjut membenarkan
kembali posisi headphone yang sempat bergeser sedikit dari posisi
seharusnya. Lagu Secercah Asa milik Rasukma masih setia mengalun di telinga.
Pandangan mataku ke depan, menatap sebuah bangunan yang orang-orang
sebut dan namakan sebagai balai. Terlihat sebuah kursi panjang yang mungkin
bisa di duduki oleh kurang lebih 4 orang. Alih alih membayangkan gambaran 4
orang yang duduk secara tersusunan disana, pikiranku malah teringat kembali
pada susunan jadwal Ujian Tengah Semester yang hanya berlangsung selama 4
hari.
Mengingat selama ini UTS tak pernah dilaksanakan dalam tempo
secepat itu, bagiku—mungkin juga bagi kalian—ini adalah sesuatu yang sangat
baru dan… mengejutkan.
Semester yang terus beranjak naik, begitupun tingkat
kesulitan tiap-tiap mata kuliahnya yang turut ikut beranjak naik. Aku
menyadarinya, tapi pikiran tak tenang itu terus menggelayuti kepala,
membayang-bayangkan akan seperti apa nilaiku nanti karena diuji dengan waktu
yang sedemikian singkat. Akankah aku berhasil dalam semester ini?
Bercerita dan menuangkan isi hati yang resah, bukan menjadi
sebuah masalah untuk menemukan secercah jalan keluarnya. Resah hati dan
runyamnya pikiran, akhirnya mendorongku bercerita pada salah seorang teman yang
kuanggap mumpuni meredakan resahku. Dan benar saja, ku pikir dalam diskusi dan
tukar cerita yang kurang lebih berlangsung selama 1 jam itu sangat banyak
menyadarkanku.
Barangkali, teman-teman menggarisbawahi juga sempat melalui hal yang sama, merasa overthinking, sulit, dan pahit dalam proses belajar, blog ini bisa sedikit meredakan hati dan pikiran yang sudah mendidih itu.
1) Overthinking, aku tidak bisa, nilaiku pasti buruk.
Mulai dari menuangkan rasa resah terhadap beberapa MK (Mata Kuliah) yang kurasa sulit, hingga berujung meminta tips, sedikit demi sedikit cerita kami mulai mengarah pada pikiran ku yang overthinking terhadap beberapa bahkan hampir semua mata kuliah yang di ujikan. Walau ungkapan “Akankah aku mendapatkan nilai yang baik dan berhasil melewati semester ini?” tidak terlontarkan, namun ada satu pernyataan yang berhasil meredakan kekhawatiran ku saat itu.
“Tugas mahasiswa adalah belajar dan mengerjakan apa yang sudah diajarkan, menilai adalah tugas dosen.”
Menilai butuh kompetensi lebih, lantas apakah kita sudah memilikinya? Mungkin dalam kasus ini (ujian) belum, karena kita juga masih terikat dengan peran sebagai mahasiswa yang tugasnya adalah belajar.
Kadangkala, kita kurang bisa objektif menilai diri sendiri. Kita melupakan semua proses yang sudah dijalankan untuk persiapan menghadapi momen ujian. Belajar hingga sore bersama teman, diskusi dengan dosen, belajar mandiri dengan membuat studi kasus baru, semua prosesnya seolah-olah lenyap tak terpandang, kalah teredam perasaan kalut dan takut. Bukankah itu kurang adil?
Dengan semua sunnatullah yang sudah dijalankan, Insya Allah semua akan baik-baik saja. Bukankah usaha tak akan pernah menghianati hasil?
Satu hal yang perlu untuk sama sama kita ingat adalah, keberhasilan tidak
hanya diukur dari nilai yang didapatkan, tetapi juga dari proses yang
dijalankan.
2)
Aku tidak menyukai pelajaran ini.
Gak bisa dipungkiri, dalam proses belajar, kita akan menemukan banyak hal-hal yang bisa jadi tidak kita sukai. Entah karena kurang minat, kurang bakat, atau sebab-sebab yang selainnya. Point ini juga yang menjadi salah satu hal yang aku keluhkan kala itu.
“Belajar bukan hanya tentang apa yang kita sukai dan menghindari apa yang tidak kita sukai.”
Beberapa persoalan yang semrawut di pikiran terkadang membuat diri lengah akan hakikat belajar, maka dari itu kita perlu kembali menghayatinya. Hakikat dari belajar adalah proses perubahan dari yang tidak tau menjadi tau.
Yang namanya proses perubahan, pasti ada saja dinamikanya, aku yakin teman-teman juga tau akan hal itu. Namun dari dinamika yang ada, kita juga bisa mendapatkan berbagai hikmah jika melihatnya dari sudut pandang yang positif loh, teman-teman!😊
Meski mungkin pemahaman dan skill dari tema tertentu belum bisa kita kuasai penuh, tapi setidaknya dari proses itu melatih mentalitas kesabaran dan ketekukan yang juga tak kalah penting dalam kehidupan.
Sehingga
tak ada yang sia-sia dalam proses belajar, semuanya pasti bermanfaat. Baik ketika
kita berhasil mencapai apa yang ingin kita ketahui dan miliki skillnya, ataupun
ketika kita belum bisa menguasai penuh apa yang ingin kita ketahui dan miliki
skillnya. Semua tergantung bagaimana cara pandang dan pemaknaan kita akan
hakikat dari “belajar” itu sendiri.
Sedikit goresan akhir,
Belajar bukanlah proses yang mudah, aku tau dan merasakannya
juga, teman-teman. Namun, sebagaimana yang sama kita tau bahwa,
seberat-beratnya proses belajar, ia takkan lebih berat daripada ketika kita
menanggung pedihnya kebodohan.
Semoga dari blog ini bisa meruntuhkan segala resah-resah
hati hingga mengubahnya menjadi lega berkepanjangan. Mari hargai setiap
prosesnya dan kelak kita akan menikmati indahnya hasil dari proses yang sudah
dijalani.
Jika tak sesuai ekspektasi, mari evaluasi. Jika sesuai dengan apa yang diingini, beri apresiasi namun jangan juga lekas berpuas diri. Mari terus belajar, lagi, dan lagi.
— 💌 •°
Aku ucapkan terimakasih sebesar-besarnya teruntuk mereka
yang terus mau menemani prosesku bertumbuh. Walau tak ada jaminan akan terus
bersama, tapi aku berharap kita bisa terus mengiringi langkah dalam bentuk doa.
Begitupun untuk kalian, teman-teman,
🌱Menggarisbawahi akan selalu ada disini, menemani kalian untuk terus bertumbuh, tumbuh hingga utuh.
Menggarisbawahi`♡


Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus